Kamis, 02 Februari 2012

MIMPI DAN FIRASAT GAIB


                                        MIMPI DAN FIRASAT  GAIB

Email: armanpranata@gmail.com
     Didalam sunah ibnu majah diriwayatkan- dengan sanad hasan sebagaimana dalam kitab Path Al Ban  -sebuah hadist berderajat marfu’ yang berbunyi ‘’Mimpi itu ada tiga macam ,Yaitu mimpi yang menyeramkan yang datangnya dari setan , Agar manusia menjadi  ketakutan dan bersedih, ada mimpi yang di sebabkan kesedihan seseporang  padfa awaktu terjaga sehingga ia melihatanya di waktu tidur,  dan ada mimpi yang dari empat puluh  enam bagian kenabian,
Mimpi benar yang merupakan dalil petunjuk yang berasal dari Allah SWT saja, Seseorang tidak mungkin dapat membedakan antara ke tiga macam mimpi tersebut, kecuali berpatokan agama, Oleh karena itu, mimpi para nabi adalah wahyu, Mimpi tersebut pasti benar, karena wahyu tidak mingkin di masuki setan, Mimpi wahyu terpelihara dari bisikan setan, Hal ini telah menjadi kesepakatan para ulama. Dengan dasar inilah mimpi para nabi adalah wahyu,  sehingga Nabi Ibrahim berani melaksanakan mimpinya yaitu menyembelih putranya  Isma’il 
     Mimpi yang di alami selain nabi tidak memilki nilai  kemahsuman,Oleh karena itu mimpi mereka  harus di ukur dan di timbang dengan wahyu yang jelas.Jika mimpi mereka sesuai dengan wahyu maka boleh di jadikan pijakan dalam berbuat, Tetapi jika mmpi mereka bertentangan dengan wahyu, tidak boleh di jadikan pijakan,
     Orang yang tidur tidak berhask melakukan priwayatan , Tidak ada jaminan atas ketepatan  mimpinya,Oleh karena itu orang yang tidur tidak terkena hukum taklifi (pembebanan hukum agama) sebagian besar mimpi tidak sesuai dengan kenyataan nya,Mimpi biasanya  hanya di jadikan lambang atau isyarat  yang hakikatnya tidakdi  ketahui kecuali oleh sedikit orang yang mempunya kemampuan khusus  seperti itu adalah nabi Yusuf  karena di ajarkan oleh Allah SWT, tentang takwil mimpi, Beliau berkata  tentang dirinya  dengan memohon  kepada Tuhan-nya. ‘’Ya Tuhanku,Sesungguhnya engkau telah menganugerahkan kepadaku sebagian kerajaan dan telah mengajarkan kepadaku sebagian tabir mimpi’’.  Siapakah di antara manusia yang  mampu  menakwilkan mimpi raja Mesir  yang melihat sapi dan tangkai-tangkai seperti yang di takwilkan Yusuf? Para ahli takwil mimpi pada jamanya tidak ada yang mampu mengungkapkan dan merka berkata ‘’ Itu hanyalah mimpi yang kosong dan kami sekali-kali tak mampu metakwilkan mimpi itu,’’ Apa yang mereka katakan bahwa meraka tidak mengetahu tabir mimpi itu adalah benar,
     Kadang-kadang seseorang bermimpi dengan dua mimpi yang mirip pada dua waktu, dan keadaan yang berbeda,,Kemudian setiap mimpi di tafsirkan  dengan penafsiran yang sangat berlawanan antara satu mimpi dengan lainnya.Oleh karena itu para ilmuwan sepakat bahwa mimpi tidak sah dijadikan hujah dan dalil hukum,Mimpi itu sekedar khabar gembira peringatan dan pemberitahuan,oleh karena itu, Nabi Muhammad Saw memberinya istilah ‘’Mubasysyirat’’(pemberi khabar gembira)
     Tetapi mimpi kadang-kadang dapat pula di perhitungkan, dan dianggap sah ,mskipun hanya untuk menenangkan hati,itu terjadi jika mimpi sesuai dengan hujah Sar’iah, yang shahih, sebagaimana yang di riwayatkan oleh Ibnu Abbas ,Beliau pernah berpendapat tentang bolehnya melakukan Mut’ah al –hajj karena menurutnya  terdapat dalil yang bersifat sima’I dari al- kitab dan sunnah tentang  hal tersebut. Ketika sebahagian sahabat bermimpi sama dengan mimpi yang di nyatakan Ibbnu abbas, maka ia member kabar gembira dengannya,
     Sekedar menjadikan mimpi sebagai khabar gembira  seperti ini tidak akan membahayakan,karena dasar penetapan hukum dalam hal itu di ambil dari dalil yangdi syariatkan, Ibbnu Al-Qayyim berkata’’ Mimpi merupakan prinsip wahyu dan kebenarannya sesuai dengan kejujuran  yang bermimpi ,orang yang mimpi paling benar adalah orang yang paling benar perkataanya. Mimpi yang kejadian sangat dekat, hamper tidak pernah salah, Sebagaimana yang di sabdakan Rasululluah Saw, yang demikian itu karena jauhnya masa kenabian dan pengaruhnya, sehingga orang-orang yang beriman di beri ganti mimpi, sebaliknya ketika kekuatan  dan cahaya kenabian sangat kuat, maka mimpi tidak di butuhkan sebagai kekuatan petunjuk.
      Demikian  pula dengan berbagai  Karomah yang tidak banyak muncul pada jaman sahabat, karena mereka tidak membutuhkan nya akibat iman yang kuat, Tetapi banyak karomah yang terjadi pada jaman setelahnya, karena umat islam setelah mereka  membutuhkan akibat iman yang lemah, Hal ini pernah di nyatakan oleh Ahmad bin Hanbal
     Ubadah bin shamit pernah  berkata ‘’Mimpi orang-orang beriman adalah kalam Tuhan kepada hambanya di kala tidur, Nabi Muhammad Saw bersabda. ‘’Yang tesisa dari kenabian adalah khabar gembira’’, Beliau di Tanya ‘’Apa yang di maksud dengan khabar gembira? ’’ Beliu menjawab ‘’ Mimpi benar yang di alami oleh orang yang beriman,atau yang di perlihatkan kepadanya,’’
     Apa bila  seluruh kaum muslimin melihat mimpi yang sama dapat di pastikan itu adalah benar, Rasullulah  bersabda ke pada para sahabatnya ketika mereke di perlihatkan malam Lailatul qodar pada sepuluh malam terakhir di bulan Ramadhan  beliau bersabda, ‘’Aku melihat mimpi  kalian sama pada sepuluh  malam terakhir di bulan ramadhan, barang siapa di antara kalian ingin mendapatkannya, maka hendaklah mencari sepuluh malam terakhir di bulan ramadhan,’’
     Mimpi itu seperti Kasyaf  ada yang berasal dari Allah disebut Rahmani,ada yang berasal dari bisikan jiwa disebut Nafsani  dan ada mimpi dari Setan disebut  Setani  Nabi Muhammad Saw bersabda, ‘’Mimpi terbagi atas tiga macam, yaitu mimpi dari Allah, mimpi dari setan dan mimpi dari dirinya sendiri pafda saat terjaga lalu ia melihat di waktu tidur’’,
     Mimpi yang merupakan  sebab hidayah adalah mimpi yang berasal dari Allah saja, Mimpi yang di alami para nabi adalah wahyu, karena terpelihara dari  bisikan setan, itu sesuai dengan kesepakatan umat islam,oleh karena itu Nabi Ibrahim berani menyembelih anaknya karena mimpi yang ia alami. Mimpi selain para nabi harus di ukur dengan wahyu,jika tidak sesuai dengan wahyu maka mimpi tidak boleh di amalkan. Tetapi jika ada yang bertanya, ‘’Bagaimana pendapat kamu jika mimpi itu benar dan ada kesamaan mimpi di antara banyak orang?’’ jawabanya adalah ‘’Jika demikian halnya,maka mimpi yang benar tidak mungkin bertentangan dengan wahyu.Bahkan mimpi mengaskan isi  wahyu atau mengingatkan akan problem tertentu,Orang yang bermimpi tidak mengetahui bahwa problem khusus  itu termasuk  dalam kategori hukum hingga ia di ingatkan dengan mimpi atas hal itu.
     Barang siapa yang ingin mimpinya di anggap benar, hendaklah ia mempertahankan kejujuran,makan yang halal,menjalankan perintah dan larangan, dan hendaklah ia tidur dalam ke adaan yang suci dan sempurna, menghadap kiblat dan berjikir hingga ia tertidur, sesungguhnya mimpi tidak dusta sama sekali.
     Mimpi yang benar dalah pada saat makan sahur, karena saat itulah wahyu ilahi di turunkan, rahmat dan ampunan mendekat sehingga setan lumpuh tak berdaya, sebaliknya mimpi bohong adalah pada waktu shalat isya masuk, karena saat itulah setan  dan ruh-ruh penasaran bergentayanganUbadah bin sammit pernah berkata. ‘’Mimpi orang yang beriman adalah kalam Allah SWT, yang di sampaikan kepada hambanya di waktu tidur.
Semoga menjadi pencerahan kita  bersama...wasalam ARMANPRANATA

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar